Being Someone’s Comfort Zone

“I don’t think he even cares about having a relationship with Selena, she’s just a comfort zone,” Wendy Williams on usmagazine.com.

Sebuah kutipan dari Wendy Williams tentang kabar Selena Gomez dan Orlando Bloom jalan bareng sehabis Met Gala menginsipirasi saya untuk bikin tulisan baru. Pernahkah kalian — secara sadar atau nggak– jadi comfort zone seseorang? Saya pernah.

Kok pede sih kalau lo dijadiin comfort zone-nya orang, Ars? Ya kan orangnya sendiri yang bilang gitu ghahahaha walaupun gak literally kayak gitu ya, gengs. Saya juga ngerasa dia adalah comfort zone saya karena di tahun-tahun belakangan ini dia selalu ada dalam satu waktu dan satu tempat, dalam satu situasi yang kita bikin sendiri. In our comfort zone.

 

Are we in our comfort zone yet?
Ciri-ciri kita jadi comfort zone-nya seseorang itu once in a time he will find you for a specific reason that he couldn’t find an answer in anyone else. Orang-orang kayak gini bisa jadi justru orang yang jarang banget ketemu sama kita, setahun sekali bahkan kalau sempat. Bisa jadi sahabat, bisa jadi mantan pacar, siapa aja sih sebenernya. Tapi, ada satu cerita atau kegiatan yang cuma buat konsumsi kita berdua.

635891909872808431808839067_93127-i-need-someone-to-talk-to-gif-zjvg

Kalau udah di comfort zone kan kita bisa ngapain aja ya. Let’s say, kalau Selena sama Orlando menurut beberapa sumber berita hook up to each other.  Ya Orlando sama Katy Perry juga pasti lebih dari ini sih, tapi selama ini mungkin ciuman si Selena lah yang bikin kangen (jadi konten dewasa). Bukan karena dia gak bisa gitu sama orang lain, tapi karena dia pengen aja gitu. And he will back again and again and again sometimes in the future to do this with Selena.

 

But it’s not enough to be called “relationship”

Jangan salah sangka, comfort zone itu bukan suatu hubungan tapi situasi. Situasi di mana kita nyaman banget dan bakal kita kangenin banget when we are out of itAnd sometimes, we will make a time to get back to that situation. We make an effort for it.

justfriends

I don’t think he even cares about having a relationship with Selena.” Nah, jadi gak peduli sebenernya mau si Selena waktu itu sama Justin kek, mau sekarang si Orlando sama Katy kek, Selena dan Orlando akan balik lagi ketemu (ter-sok-tau). Ini contoh, gengs.

Tapi mereka gak ada niatan buat jadi pacar. Bisa jadi salah satu ngarep, bisa jadi salah satu mikirnya ada yang gak cocok. Karena kan kalau pacaran harus saling menerima lah istilahnya, tapi ini ada yang mengganjel tapi gak bisa lepas juga tapi gak baper juga. Gitu deh. Jadi mereka cocok di satu situasi aja, di satu poin aja. That’s it and nothing more!

 

And in the end everybody needs to leave their comfort zone
Yes, they need to even they don’t want to. Kan katanya terlalu lama di dalam comfort zone itu gak bagus. Sama juga kayak situasi pertemanan cowok-cewek macem gini. Salah satu atau bahkan dua-duanya pasti ketergantungan dan itu gak bagus. Apalagi kalau dua-duanya punya pacar. Gak bagus banget!

In case, saya jadi comfort zone-nya seseorang dan someday dia keluar dari situasi ini karena satu dan lain hal. Misalnya, menikah. Yaudah pergi aja, leaving their comfort zone for good. Kesel gak sih kalau jadi Katy Perry??? Lagi cinta-cintanya sama pacarnya, eh tau-tau ada main sama “temennya.” Nah, status temen ini yang bikin kesel dan janganlah kita jadi temen yang kayak gitu kalau gak mau karma hahahaha

out-of-your-comfort-zone

Apa yang harus kita lakukan kalau udah ditinggalin dan gak lagi jadi comfort zone-nya seseorang? Atau kita harus meninggalkan comfort zone kita sendiri? First, face it! Sadar kalau kita cuma ada di situasi yang sama tapi punya dunia yang berbeda. Kembalilah ke dunia masing-masing. Second, cry for it! ahahahaha iya, saya nyuruh nangis. Tangisi semua kenangan seru selama berada di dalam comfort zone itu, karena di dalam comfort zone itu pasti indah. Third, get a life! Sebenernya, selama ini kita cuma gak berani keluar aja dari situasi itu. Padahal kalau dicoba pasti bisa dan gak kenapa-kenapa kok gak punya comfort zone itu. Percayalah, karena saya sudah melewati semuanya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s